Penanganan Perilaku Bullying

Foto : Cirebonmedia .com

Nama : Syari Hanifah

NIM : 17410126

KELAS : Psikologi Konseling (C)

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah bullying. Di Indonesia tidak jarang kita temui kasus bullying di publikasikan oleh beberapa media, baik media sosial dan media cetak. Kasus bullying yang terjadi di Indonesia juga cukup beraneka ragam, dari mulai mengejek, mencelakai, hingga membunuh korban. Selain itu kasus bullying terjadi di berbagai kalangan termasuk di area pendidikan.

Berdasarkan berita dari detik.com menyebutkan bahwa “diperoleh data pelanggaran hak anak di bidang pendidikan masih didominasi oleh perundungan, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual,” ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019). (Rahayu, 2019)

Sullivan (2005) berpendapat bahwa bullying adalah bentuk tindakan negatif, yang bersifat agresif dan dilakukan oleh satu orang atau lebih terhadap orang lain. Biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan terjadi karena ketidakseimbangan kekuatan atau karena kekuasaan yang digunakan dengan sewenang-wenang. Coloroso (2007) mengungkapkan bahwa bullying adalah perilaku yang berbentuk tindakan intimidasi  dan dilakukan oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Bentuk tindakannya dapat berupa verbal, non verbal, dan psikologis. Bentuk tindakan verbal dapat meliputi memaki, menggosip, dan mengejek. Untuk tindakan non-verbal dapat berupa menampar, memalak, memukul, dan bentuk lain yang berhubungan dengan fisik. untuk tindakan bullying psikologis antara lain mengabaikan, mengintimidasi, mendiskriminasi, dan mengucilkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecenderungan perilaku bullying adalah kecondongan suatu perilaku dengan berkemungkinan besar berupa tindakan yang negatif, yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti dan membuat tidak nyaman seseorang atas dasar kekuasaan dan ketidakseimbangan kekuatan.

Bullying diakibatkan oleh banyak faktor, sebagian diantaranya adalah ketidakseimbangan kekuatan, dan juga senioritas. Jika seorang senior merasa dirinya lebih berkuasa dan lebih kuat maka tidak menutup kemungkinan terjadi perilaku yang semena-mena kepada pihak dibawahnya. Namun juga bukan berarti pelaku bullying berasal dari senior, sebagian lain juga berasal dari satu angkatan, namun saat mereka merasa memiliki kekuatan lebih maka perilaku bullying ini akan mudah terjadi.

Didapatkan dari okezone.com, “Aldama Putra (19), mahasiswa ATKP Makassar meninggal diketahui penyebabnya adalah karena adanya penganiayaan pleh seniornya. Penganiayaan terjadi pada Minggu 3 Februari 2019, kurang lebih pukul 21.30 Wita. Aldama dianiaya karena tidak mengenakan helm saat masuk ke lingkungan kampus yang berada di Jalan Salodong, kecamatan Bringkanaya, Makassar.” (Nasuha, 2019)

Selain kasus tersebut, tentu masih banyak kasus bullying lain di dunia pendidikan terjadi di Indonesia khususnya disekitar kita. Maka sudah seharusnya bagi kita memahami betul kondisi ini, dan terus mencari alasan, penyebab, serta solusi dari kasus bullying yang mudah terjadi di kalangan pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan tempat dimana ilmu menjadi hak bagi seluruh anak bangsa menjadi lingkungan yang tidak aman, dan mengancam bagi siswa siswi di Indonesia.  

Pembahasan

Salah satu solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegah ataupun menangani kasus ini agar tidak terus menerus terjadi adalah dengan diadakannya Konseling Kelompok di kalangan siswa/siswi sekolahan.

Kata konseling berasal dari kata counsel yang diambil dari bahasa latin yaitu counsiliuk,artinya “bersama” atau “bicara bersama”. Maksud adari berbicara bersama adalah pembicaraan konselor dengan seseorang atau beberapa konseli (Latipun, 2014). Kelompok adalah kumpulan individu-individu yang mempunyai hubungan-hubungan tertentu, yang membuat mereka saling ketergantungan satu sama lain dalam ukuran-ukuran yang bermakna (DS, 2009).

Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa Konseling Kelompok adalah proses konseling yang dilakukan dalam situasi kelompok, dimana konselor berinteraksi dengna konseli dalam bentuk kelompok yang dinamis untuk memfasilitasi perkembangan individu dan membantu individu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara bersama-sama. Konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri. Fungsi-fungsi tersebut kemudian diwujudkan melalui wadah kelompok kecil dan sumbangan dari perorangan dalam anggota kelompok.

Konseling kelompok dalam psikologi berlandaskan oleh pendekatan teori psikologi yang telah dikembangkan oleh para tokohnya. Berikut ini adalah layanan konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan-pendekatan psikologi :

1. Konseling Kelompok dengan Pendekatan Psikoanalitik

Layanan konseling yang menggunakan pendekatan ini pada praktiknya, yang terpenting adalah bagaimana seorang konselor mampu membuat pikiran konseli yang berada diluar kesadarannya menjadi disadari. dalam hal ini berfokus bagaimana kita dapat menata interaksi antara id,ego,superego.

Namun dalam pelayanan konseling kelompok dan individu penerapannya berbeda. Perbedaannya terletak pada proses dan faktor yang ditekankand alam konseling.

Fungsi konselor pada konseling yang menggunakan pendekatan teori psikoanalisis adalah membantu konseli untuk menemukan penyebab yang tidak disadari dari perilaku yang dimilikinya saat ini.

Selain itu konselor dalam pendekatan ini berfungsi sebagai pemimpin kelompok, menurut Natawidjaja meliputi :

  1. Menciptakan iklim yang mendorong anggota-anggota kelompok menyatakan dirinya secara bebas
  2. Menyatakan batas antara perilaku dalam kelompok dan perilaku di luar kelompok
  3. Memberikan dukungan terapeutik apabila anggota kelommpok tidak memberikannya
  4. Membantu para anggota menghadapi dan menangani penolakan dalam diri mereka sendiri atau dalam kelompok sebagai keseluruhan
  5. Menumbuhkan kemandirian anggota-anggota kepada aspek-aspek yang samar-samar dalam perilakupara anggota kelompok, dan melalui pertanyaan-pertanyaan untuk menjajaki dirinya sneidri lebih mendalam.

2. Konseling Kelompok dengan Pendekatan Client Centered (Berpusat pada pribadi)

Pencetus pendekatan ini adalah Carl R. Rogers, pendekatan ini menekankan pada mutu konselor daripada keterampilan teknisnya dalam memimpin kelompok, karena tugas dan fungsinya dalam layanan konseling yang menggunakan pendekatan berikut adalah menjadi fasilitator kelompok, yakni mengerjakan apa yang diperlukan untuk menciptakan suatu iklim yang subur dan sehat didalam kelompok.

Ciri-ciri konselor dalam layanan konseling yang menggunakan pendekatan dari Carl R. Rogers adalah sebagai berikut :

  1. Fasilitator bersedia berpartisipasi sebagai seorang anggota kelompoknya
  2. Fasilitator memperlihatkan kesediaan untuk berusaha memahami dan menerima setiap anggota dalam kelompok
  3. Fasilitator bersedia berbagi perjuangan dengan para anggota kelompok, apabila hal itu diperlukan dengan cara dan waktu yang tepat
  4. Fasilitator bersedia melepaskan kembali kekuasaanya sebagai ahli
  5. Fasilitator percaya akan kemampuan para anggota kelompok untuk bergerak maju kearah positif dan sehat tanpa mendapat nasehat dari fasilitator. (Kurnanto, 2013).

3. Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavioral

Dalam penggunaan konseling kelompok dengan pendekatan behavioral menurut Krumboltz dan Thoresen menekankan pada melatih konseli tentang pengelolaan diri yang dapat digunakan untuk menangani masalah masa kini dan masa yang akan datang, sehingga dapat digunakan tanpa perlu terapi secara terus menerus. Salah satu masalah yang dapat ditangani dengan pendekatan ini adalah masalah bullying verbal, karena pendekatan ini dirasa dapat dmerubah perilaku bullying verbal karena dapat melatih pengelolaan diri pada diri sendiri agar dapat menangani masalahnya sendiri saat konseling juga seterusnya.

Para konselor diharapkan dapat berperan aktif dalam kelompoknya dan menerapkan pengetahuannya mengenai prinsip-prinsip perilaku dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Natawidjaja menyebutkan beberapa fungsi dari konselor kelompok dengan pendekatan perilaku :

  1. Melakukan wawancara dengan calon anggota kelompok pada pertemuan pertama sebagai penilaian awal
  2. Mengajarpeserta tentang proses-proses kelompok dan mengani cara bagaimana memperoleh manfaat dari kelompok
  3. Melaksanakan penilaian dan asesmen yang terus menerus terhadap masalah setiap anggota kelompok
  4. Membantu anggota kelompok untuk mengembangkan tujuan pribadi dan tujuan kelompok secara khusus
  5. Memilih secara tepat teknik-teknik yang dirancang dalam mencapai tujuan.
  6. Membantu para anggota kelompok mempersiapkan berakhirnya kegiatan kelompok.

Kesimpulan dan Saran

Bullying sudah terjadi tidak baru-baru ini, banyak kasus yang membuktikan adanya bullying. Sebagian besar bullying terjadi di area pendidikan yang seharusnya aman dan memberikan pelayanan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu perlu diadakan konseling untuk menangani pelaku bullying juga korban bullying. Konseling kelompok merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan untuk membantu mencegah, ataupun menangani permasalahan ini. Agar konseling kelompok lebih efektif maka perlu digunakan pendekatan-pendekatan psikologi, karena bullying merupakan permasalahan yang terkait dengan manusia, berkaitan dengan individu dan idividu, individu dengan kelompok. Pendekatan yang dapat digunakan antara lain psikoanalisis, client centered, dan juga behavioral.

Maka dari itu, ada baiknya lembaga pendidikan mencoba penanganan tentang kasus bullying melalui konseling kelompok, dan melakukan beberapa observasi atau penilaian pada setiap siswanya agar mengetahui betul bagaimana kondisi, peran, dan kedudukannya diantara teman-temannya. Konseling kelompok dapat digunakan merek sebagai alternatif untuk mencegah terjadinya rasa senioritas atau berkuasa, sehingga akan timbul rasa saling menghargai diantar mereka.

DAFTAR PUSTAKA

DS, S. H. (2009). Konsep-konsep Bimbingan Kelompok. Bandung: Refika Aditama.

Kurnanto, M. E. (2013). Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Latipun. (2014). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Nasuha, W. (2019). 6 Kasus Kekerasan dan Bullying di Sekolah Awal 2019, Nomor 2 Berakhir tragis. Okezone.com.

Rahayu, L. S. (2019). KPAI : Angka Kekerasan pada Anak Januari-April 2019 Masih Tinggi. detikNews.

Puspitasari (2015). Hubungan antara Regulasi Emosi dengan Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja. Hubungan antara Regulasi Emosi dengan Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja (p.3). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Santrock, J.W (2010). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

LAMPIRAN

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: