5 TOKOH FILSAFAT ISLAM TERKENAL DI DUNIA

tokoh filsafat islam
5 Tokoh Filsafat Islam

Tokoh Filsafat Islam – Menurut sejarah dari berbagai sumber, peradaban Islam tidak hanya melahirkan para ulama yang pakar di bidang keilmuan saja. Ada juga beberapa tokoh, sarjana dan pemikir Muslim yang punya kontribusi besar di bidang ilmu-ilmu pengetahuan eksakta dan ilmu sosial. Tak tanggung-tanggung, mereka dengan pelbagai teorinya, ternyata mampu menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan belahan dunia lainnya sampai saat ini.

Kendati terjadi pro dan kontra soal keberadaan filsafat dalam Islam, banyak tokoh Muslim yang diketahui sebagai filsuf terkenal di dunia. Di antara mereka bahkan senantiasa menjadi rujukan para tokoh filsafat yang datang setelahnya.

Baca Juga : Mengenal Sosok Ulama Cerdas Gus Baha

Tokoh Filsafat Islam

Kali ini kalian akan mengulas lima tokoh filsafat islam besar yang luar biasa. Yuk baca sampai selesai!

Filsuf Al-Kindi (180-260 H/796-873 M)

al kindi

Tokoh filsafat Muslim yang pertama muncul adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi, atau lebih dikenal dengan sebutan al-Kindi. Ia berasal dari keturunan bangsawan Arab dari suku Kindah, suku bangsa yang pada masa sebelum Islam bermukim di wilayah Arab Selatan. Al-Kindi dilahirkan di Kufah. Ayahnya adalah gubernur Basrah pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah, al-Hadi (169-170 H/785-786 M) dan Harun ar-Rasyid (170-194 H/786-809 M).

Ibnu Abi Usaibi’ah, pengarang Tabaqat al-Atibba’, mencatat bahwa al-Kindi sebagai salah satu dari empat penerjemah mahir pada masa gerakan penerjemahan. Ia terutama sekali ikut memperbaiki terjemahan Arab dari sejumlah buku. Selain itu, aktivitasnya lebih banyak tertuju pada upaya menyimpulkan pandangan-pandangan filsafat yang sulit dipahami dan kemudian mengarang sendiri.

Jumlah karya tulis al-Kindi cukup banyak, yakni 241 buah risalah dalam bidang filsafat, logika, psikologi, astronomi, kedokteran, kimia, matematika, politik, optik, dan lain-lain. Sayangnya, kebanyakan karya tulisnya itu tidak atau belum dijumpai. Baru sekitar 25 buah karyanya yang berhasil ditemukan, yang kemudian diterbitkan dalam dua jilid. Jilid pertama pada tahun 1950 dan jilid kedua pada 1953 di Kairo, dengan judul Rasa’il al-Kindi al-Falsafiyyah.

Al-Kindi juga dijuluki sebagai tokoh filsafat Arab. Itu karena ia satu-satunya yang murni berdarah Arab. Dia pernah memperoleh penghargaan tinggi dari Khalifah Al-Mu’tasim, tapi juga pernah mengalami perlakuan buruk dari pihak-pihak yang iri kepadanya atau benci kepada filsafat.

Filsuf Islam Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Tusi al-Ghazali. Ia merupakan ulama terkemuka yang amat berpengaruh di dunia Islam, terutama di kalangan Suni.

Al-Ghazali lahir di Desa Gazaleh, dekat Tus. Ia belajar di Tus, Jurjan, dan Nisabur. Ia kemudian bermukim di Mu’askar selama lima tahun dan di Baghdad selama lima tahun berikutnya. Di sana ia menjadi pemimpin dan guru besar Madrasah Nizamiyah Baghdad. Di sana pula ia berupaya keras mempelajari filsafat dan menunjukkan pemahamannya tentang filsafat dengan menulis buku berjudul Maqasid al-Falasifah (tentang pemahaman-pemahaman para tokoh filsafat).

Ia dikenal karena kemampuannya mengkritik argumen-argumen kaum tokoh filsafat dengan menulis buku Tahafut al-Falasifah. Buku tersebut ia tulis dalam rangka memberikan kesan tentang kelemahan atau kekacauan pemikiran-pemikiran para tokoh filsafat Muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina.

Semasa hidupnya, Al-Ghazali dikenal sebagai fakih, mutakalim, dan sufi. Ia mahir berbicara dan amat produktif dalam mengarang. Karya tulisnya lebih dari 228 buku dan risalah. Karya tulisnya yang paling populer di dunia Islam adalah Ihya’ ‘Ulum ad-Din (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama).

Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)

filsafat ibnu ruysd
Ibnu Ruysd

Salah satu tokoh filsafat Muslim yang muncul di belahan barat adalah Abu al-Walid Muhammad Ibnu Ruysd. Ia berasal dari keluarga hakim. Ia lahir di Cordoba dan wafat di Marakech. Ia dikuburkan di sana, tapi tiga bulan setelah itu jenazahnya dipindahkan ke Cordoba.

Ibnu Rusyd menguasai berbagai bidang ilmu, seperti fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, kedokteran, logika, dan filsafat. Ia berhasil menjadi ulama dan tokoh filsafat yang sulit ditandingi. Ia juga pernah menjadi hakim di Cordoba pada 1171 M. Ibnu Rusyd juga pernah menjadi dokter istana.

Kehebatan Ibnu Rusyd dapat dilihat melalui karya-karya tulisnya. Ia menulis Bidayah al-Mujtahid, sebuah karya besar berupa fikih perbandingan, yang secara luas dipakai oleh para fukaha sebagai buku rujukan penting.

Ia juga menulis Kulliyyat fi at-Thibb, yang membicarakan garis-garis besar ilmu kedokteran, dan menjadi pegangan para mahasiswa kedokteran di Eropa selama berabad-abad di samping karya Ibnu Sina, Al-Qanun. Karya tulisnya yang merupakan ulasan atas karya Aristoteles dibukukan ke dalam tiga buku ulasan, yaitu Al-Asghar (Yang Lebih Kecil), Al-Ausath (Yang Lebih Sedang), dan Al-Akbar (Yang Lebih Besar).

Sosok Ibnu Rusyd juga dikenal karena pandangan-pandangannya yang mengkritik pandangan Al-Ghazali. Sebagai tangkisan terhadap karya Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah (Kacaunya Kaum tokoh filsafat), ia menulis buku Tahafut at-Tahafut al-Falasifah (Kacaunya Tahafut al-Ghazali).

Ar-Razi (250-313 H/864-925 M)

Tokoh filsafat Muslim terkemuka yang muncul setelah al-Kindi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Ia lahir, tumbuh, dan wafat di Rayy, dekat Teheran, Iran. Tetapi, ia juga pernah hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain. Ia adalah dokter terbesar yang dilahirkan dunia Islam zaman klasik. Ia pernah menjadi direktur rumah sakit Rayy dan pernah pula menjadi direktur rumah sakit Baghdad.

Ketekunan dan kesungguhannya dalam menulis luar biasa. Ia pernah menulis dalam setahun lebih dari 20 ribu lembar kertas. Karya-karya tulisnya mencapai 232 buah buku atau risalah, yang kebanyakan dalam bidang kedokteran.

Di samping itu, ia juga banyak menulis karya-karya yang berhubungan dengan filsafat. Namun, hampir semua karya tulisnya dalam bidang filsafat belum dijumpai. Banyak pihak menduga karya-karya filsafatnya telah dihancurkan oleh lawan-lawannya yang telah menuduhnya sebagai seorang mulhid (menyimpang dari, atau mengingkari ajaran Islam).

Tokoh FIlsafat Islam – Ibnu Sina

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, di mana Khilafah Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku-buku yang khusus untuk soal-soal kejiwaan atau pun buku-buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pemikiran Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya. Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang; penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: